twitter


Beliau bernama Abdullah ibn Zaid ibn Amr al-Jarmiy, salah seorang terkemuka ahli ibadah dan sangat zuhud di antara penduduk Basrah Irak. Beliau seorang yang sangat alim dalam masalah peradilan dan hukum-hukum syari’at. Di saat hidup banyak orang berharap kepadanya untuk memangku jabatan hakim, namun ternyata beliau justru kabur dari Basrah ke wilayah Syam (sekarang Siria), menetap di sana hingga beliau meninggal. Beliau termasuk salah seorang perawi hadits yang sangat dipercaya, wafat tahun 104 H pada masa pemerintahan Yazid ibn Abdul Malik.

Ibn Hibban dalam kitab ats-Tsiqat meriwayatkan tentang siapa Ibn Abi Qilabah dengan sanadnya dari al-Auza’i, dari Abdullah ibn Muhammad, berkata:

“Saya (Abdullah) adalah seorang yang dijadikan pengawas di wilayah perbatasan Mesir. Suatu hari aku keluar rumah ke daerah pesisir pantai untuk memeriksa wilayah tersebut. Hingga ketika aku sampai di suatu tempat lapangan luas berpasir aku mendapati sebuah kemah, di dalamnya seorang laki-laki yang telah lumpuh, kedua kaki dan tangannya tidak lagi dapat digerakkan, penglihatan telah buta, dan pendengarannya sudah tidak lagi berfungsi dengan baik. Bahkan seluruh anggota badanya sudah tidak ada yang dapat ia pergunakan, kecuali hanya lidahnya saja yang ia pergunakan untuk berkata-kata. Dalam keadaan seperti itu dari mulut orang tersebut aku mendengar kata-kata dzikir, ia mengucapkan:

اللّهُمّ أوْزِعْنِيْ أنْ أحْمَدَكَ حَمْدًا أكَافِئُ بهِ شُكْرَ نِعْمَتِكَ الّتِيْ أنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ وَفَضَّلْتَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمّنْ خَلَقْتَ تَفْضِيْلاً

“Ya Allah jadikanlah aku seorang yang selalu memuji-Mu dengan pujian yang dapat menjadikannya sebagai syukurku atas nikmat-Mu yang telah engkau karuniakan kepadaku, dan atas nikmat-Mu bahwa Engkau telah menjadikanku memiliki keutamaan lebih di atas kebanyakan orang-orang yang telah Engkau ciptakan”.

Al-Awza’i berkata: Abdullah berkata: “Demi Allah saya akan mendatangi orang itu, dan pasti akan saya tanyakan kepadanya dari manakah ia mendapatkan kalimat-kalimat dzikir tersebut, apakah ia yang ia ucapkannya tersebut? Apakah hanya pemahaman belaka, ataukah memang ia seorang yang berilmu, ataukah mungkin ia telah mendapatkan ilham?”.

Kemudian aku mendatangi orang tersebut. Setelah mengucapkan salam, aku berkata kepadanya: “Aku mendengarmu berkata: “Ya Allah jadikanlah aku seorang yang selalu memuji-Mu dengan pujian yang dapat menjadikannya sebagai syukurku atas nikmat-Mu yang telah engkau karuniakan kepadaku, dan atas nikmat-Mu bahwa Engkau telah menjadikanku memiliki keutamaan lebih di atas kebanyakan orang-orang yang telah Engkau ciptakan”, Lalu apakah nikmat Allah yang telah engkau raih hingga engkau mengucapkan kata-kata tersebut? Serta apakah keutamaan yang telah engkau raih dari-Nya hingga engkau patut mensyukurinya?”

Ia menjawab: “Apakah engkau melihat apa yang telah dikehendaki oleh Allah terhadap diriku ini? Demi Allah seandainya Dia mengirimkan api dari langit untuk membakar diriku, atau memerintahkan gunung-gunung menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan lautan untuk menenggelamkanku, atau memerintahkan bumi untuk menelan ragaku, tidak akan menembahkan semua itu pada diriku kecuali aku akan bertambah syukur kepada-Nya atas nikmat lidah yang telah ia karuniakan kepada diriku. Hanya saja kerena kebetulan engkau mendatangiku maka aku memiliki permintaan dari dirimu, seperti yang engkau lihat sendiri keadaanku ini, aku sudah tidak dapat berbuat suatu apapun bagi diriku sendiri, sebelumnya aku memiliki seorang anak yang selalu menemuiku di waktu shalatku, dialah yang me-wudlu-kan saya, jika aku lapat dialah yang memberikan makanan kepadaku, jika aku haus dialah yang memberikan minum kepadaku, sudah semenjak tiga hari ini aku kehilanan dia, maka jika engkau sudi carilah putraku tersebut, -semoga rahmat Allah tercurah bagi dirimu?”.

Aku berkata: “Demi Allah, tidak ada seorang yang menunaikan kebutuhan saudaranya yang lebih besar pahalanya dari pada apa bila ada orang yang menunaikan kebutuhan orang seperti dirimu ini, aku pasti akan mencarikannya bagi dirimu”.

Kemudian aku mencari anak orang tersebut. Dan belum lagi aku terlalu jauh dari kemahnya hingga aku sampai ke suatu tempat di antara dua bukit pasir, aku mendapati anak yang dimaksud telah meninggal karena dimangsa binatang buas dan telah memakan daging tubuhnya. Dalam hatiku yang dipenuhi kegundahan aku berkata: “Apakah aku memiliki kekuatan menghadap kembali kepada orang di dalam kemah tersebut dan menceritakan prihal putranya ini?”.

Ketika aku mulai melangkahkan kaki menuju kemah tiba-tiba terlintas dalam hatiku tentang kisah Nabi Ayyub yang serta-merta hal itu menguatkan langkahku. Setelah sampai di kemah, aku mengucapkan salam kepada orang tersebut, lalu ia menjawab salamku. Ia berkata: “Bukankah engkau temanku tadi?”
Aku menjawab: “benar”.

Ia berkata: “Apa yang telah engkau lakukan terhadap apa yang telah aku pintakan kepadamu?”.

Aku balik bertanya kepadanya: “Menurutmu manakah yang lebih mulia bagi Allah, apakah dirimu ataukah Nabi Ayyub?”.

“Tentu Nabi Ayyub”.

“Bukankah engkau telah mengetahui ujian apa yang telah ditimpakan oleh Allah kepada Nabi Ayyub? Bukankah Nabi Ayyub telah diuji oleh-Nya dengan dibinasakan seluruh hartanya, serta dimatikan seluruh keluarga dan keturunannya?”

“Benar”.

“Bagaimana sikap Nabi Ayyub terhadap Allah dalam menghadapi ujian tersebut?”

“Beliau tetap dalam keadaan sabar, tetap bersyukur kepada-Nya dan terus memuji-Nya”.

“Bukankah engkau juga tahu bahwa ujian Allah tehadap Nabi Ayyub tidak sampai di situ, bahkan seluruh kerabat dan orang-orang yang mencintainya menjadi merasa asing terhadap dirinya hingga mereka menjauhinya?”

Ia berkata: “Benar”.

“Lalu Bagaimana sikap Nabi Ayyub terhadap Allah dalam menghadapi ujian tersebut?”

“Beliau tetap dalam keadaan sabar, tetap bersyukur kepada-Nya dan terus memuji-Nya”.

“Bukankah engkau juga tahu bahwa ujian Allah tehadap Nabi Ayyub tidak sampai di situ, Allah telah berkehendak untuk menjadikan setiap orang yang bertemu dengannya akan mencaci-makinya dan menghinakannya?”

“Benar”.

“Lalu Bagaimana sikap Nabi Ayyub terhadap Allah dalam menghadapi ujian tersebut?”.

“Beliau tetap dalam keadaan sabar, tetap bersyukur kepada-Nya dan terus memuji-Nya”.

Kemudian aku berkata kepadanya: ”Sesungguhnya putramu yang engkau perintahkan kepadaku untuk mencarinya telah wafat, ia telah dimangsa binatang buas hingga tubuhnya telah dimakan oleh bintang buas tersebut. Semoga Allah memberikan pahala yang besar bagimu, dan tetap menjadikanmu seorang yang terus bersabar”.

Ia berkata: ”Segala puji bagi Allah yang telah memberikan keturunan kepadaku yang tidak melakukan maksiat kepada-Nya hingga ia tidak dibakar oleh neraka-Nya”.

Kalimat ini adalah kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya, kemudian orang tersebut menarik nafasnya satu kali tarikan, dan ternyata ia wafat saat itu juga.

Aku berkata: ”Inna Lillah Wa Inna Ilayhi Raji’un, kali ini aku benar-benar telah mendapatkan musibah besar. Sekarang apa yang hendak aku lakukan terhadap jasad orang ini? Jika ia aku tinggalkan maka ia akan dimangsa binatang buas, dan jika aku tetap berada di sini maka aku tidak dapat melakukan suatu apapun untuk mengurusnya”.

Saat itu, karena menjelang malam, maka kemudian aku menyalakan sebuah lilin yang kebetulan berada di dekat orang tersebut. Lalu aku duduk di samping kepalanya dalam keadaan menangis dan dalam kebingungan.

Saat aku duduk dalam keadaan yang sangat memilukan itu, secara tiba-tiba datang empat orang masuk ke dalam kemah. Mereka berkata: ”Wahai Abdullah, apa yang terjadi pada dirimu? Bagaimana keadaamu? Bagaimana kisahnya bisa terjadi seperti ini?”

Kemudian aku ceritakan kepada mereka prihal diriku dan orang yang ada di hadapan diriku tersebut. Mereka berkata: ”Bukalah penutup wajahnya, mungkin kami mengenal orang ini”. Lalu aku membuka penutup wajah orang tersebut. Tiba-tiba mereka merangkul jasad orang tersebut, mereka menciumi kedua matanya, dan menciumi kedua tanganya. Mereka melakukan itu berulang-ulang. Mereka berkata: ”Demi Allah, inilah mata yang tidak pernah melihat perkara-perkata yang diharamkan oleh Allah, dan inilah tubuh yang setiap malamnya terus melakukan sujud kepada-Nya di mana seluruh manusia dalam keadaan tertidur pulas”.

Aku berkata: ”Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya bagi kalian, sebenarnya siapakah orang ini?”.

Mereka berkata: ”Ini adalah Abu Qilabah al-Jarmiy, beliau adalah teman sahabat Abdullah ibn Abbas, beliau adalah seorang yang sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Dia malam itu pula lalu kami memandikannya, menkafaninya, menshalatkannya, dan menguburkannya. Kemudian kami pulang. Empat orang tersebut pulang ke tempat mereka masing-masing, dan aku pulang ke tempatku di wilayah perbatasan. Saat malam mulai larut, aku mendatangi tempat tidurku untuk istirahat, aku rebahkan kepalaku, lalu aku tertidur. Tiba-tiba dalam tidurku aku bermimpi melihat Abu Qilabah sudah berada di dalam taman surga, di atas kepalanya beliau mengenakan dua mahkota dari mahkota-mahkota surga, aku mendengarnya mengumandangkan firman Allah:

سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار (الرعد: 24)

”Balasan keselamatan (surga) bagi kalian terhadap sikap sabar kalian, dan itu (surga) adalah sebaik-baiknya tempat tinggal” (ar-Ra’ad: 24).

Aku berkata kepadanya: ”Bukankah engkau sahabatku tadi?”.

Ia menjawab: ”Benar”.

”Bagaimana engkau mendapatkan segala kenikmatan dan kesenangan ini?”.

Beliau menjawab: ”Sesungguhnya ada beberapa derajat yang sangat tinggi yang tidak dikaruniakan oleh Allah kepada siapapun, kecuali kepada seorang yang benar-benar bersabar saat ia mendapati musibah dan benar-benar bersyukur saat ia mendapatkan karunia-Nya, disertai dengan rasa takut kepada-Nya; baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak”.

(Diriwayatkan oleh Imam Ibn Hibban dalam Kitab ats-Tsiqat, j. 5, cet. Haidarabad India)

0 komentar:

Poskan Komentar